Home > Uncategorized > MENUJU PERADABAN AKUNTANSI ISLAM DALAM PERSPEKTIF PAKAR AKUNTANSI INTERNASIONAL

MENUJU PERADABAN AKUNTANSI ISLAM DALAM PERSPEKTIF PAKAR AKUNTANSI INTERNASIONAL

October 9th, 2017

 

Menuju Peradaban Akuntansi Islam

dalam Perspektif Pakar Akuntansi  Internasional

 

Kariyoto

Prodi Keuangan dan Perbankan

Program Vokasi

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

HP 085755563811

e-mail: kariyoto@ub.ac.id

 

 

 

Abstraks

Artikel ini bertujuan membahas perkembangan peradaban akuntansi Islam  dalam pandangan pakar akuntansi internasional.  Metode penelitian menggunakan deskriptif  kualitatif melalui  pendekatan penelitian kepustakaan.  Metode  ini  digunakan  untuk mendapatkan pemahaman dan gambaran yang lenkap fenomena pustaka  akuntansi Islam.  Pertanyaan masyarakat mengarah kembali  kepada  asalnya tentang fenomena akuntansi Islam.  Naisbitt menerjemahkan fenomena  ini dalam  bukunya Megatrend 2000 yang  dituliskannya berdasarkan hasil  penelitian dengan  memakai teori  kecenderungan statistik,  menyebutkan bahwa  masyarakat di era 2000 dan  seterusnya semakin  mengalami peningkatan semangat keagamaan tidak terkecuali dalam akuntansi.  Hasil penelitian ini menemukan fenomena menuju peradaban akuntansi Islam dalam pandangan pakar akuntansi internasional.

 

Kata kunci: peradaban akuntansi Islam, perspektif,  pakar akuntansi internasional

Abstraks

This article aims to discuss the development of civilization of the Islamic accounting in view of the international accounting experts. The research method using descriptive qualitative approach to the study of literature. This method is used to get an understanding and overview lenkap phenomenon of Islamic accounting literature. Question society leads back to the origin of the phenomenon of Islamic accounting. Naisbitt translate this phenomenon in his book Megatrends 2000 which he wrote based on research results using statistical tendency theory, said that people in the era 2000 onwards further increased religious fervor not exception in accounting. The results of this study found the phenomenon to the civilization of Islamic accounting in view of the international accounting experts.

 

Keywords: accounting civilization Islam, perspective, an expert in international accounting

 

 

 

 

 

Pendahuluan

Masyarakat sekarang ada sebuah kecenderungan  akan kembali  memberikan perhatian kepada ajaran agamanya. Mengapa   hal ini terjadi,  banyak  faktor, misalnya  karena ternyata apa  yang  dilakukan manusia selama  ini  untuk mencari kesenangannya sendiri dengan pola  sendiri tidak membawa kebahagiannya. Perilaku hedonism, free sex, happies, machievillis, materilis, liberal ternyata tidak  membawa kebahagiaan substansial. Fenomena ini benar adanya  jika kita amati  kenyataan perkembangan masyarakat baik di negara  kita maupun di tingkat internasional khususnya fenomena Islam.  Di beberapa universitas Barat telah banyak membuka pusat studi  Islam  baik  sendiri maupun yang  bernaung di bawah pusat studi Timur. Di Roma, pusat Katolik dunia, baru-baru ini telah diresmikan berdirinya Masjid. Di Eropa,  di USA Islam  semakin tampak bahkan di lnggris, Belanda,  Perancis sudah menjadi agama kedua.  Pangeran Charles sendiri pernah mensponsori dialog  Barat dan Islam. Bahkan dalam bidang politik  kekuatan Islam  semakin diperhitungkan. Di USA muslim sudah ada yang telah menjadi anggota kongres, walikota, bahkan imam tentara yang khusus membina kerohanian tentara Islam sudah diangkat oleh Pentagon.  Di lnggris sudah ada partai Islam  yang  telah  ikut dalam  pemilu.

Fenomena Muhammad Ali, Abdul Kariim pemain Basket NBA terbaik dan petinju  terbesar seperti  Malil Abdul  Aziz  (d/h  Mike Tyson),  penyanyi rock Cat  Steven  dan banyak lagi  tidak ragu-ragu  menunjukkan keislamanya: lsyhadu  anni muslim. Demikian juga di negara  lainnya baik di negara  mayoritas Islam  maupun Islam  sebagai  minoritas kesadaran beragama ini  semakin kental. Memang untuk  negara di  mana Islam minoritas masih  harus berjuang dengan amat pahit meraih hak  dan kebebasannya di tengah  masyarakat beradab ini seperti  Kashmir, Bosnia, Chechnya, Moro, Palestina, Cyprus, Turki, dan  lain sebagainya.

Di negara kita juga  demikian potensi kuat Islam mulai tampak. Kegairahan,  ghirah beragama  menonjol sekali khususnya dikalangan menengah ke atas.  Kalau dahulu orang  takut mengklaim dirinya muslim saat ini  sudah banyak yang  tidak  takut bahkan bangga menjadi Islam kendatipun ia menteri, jenderal, artis,  konglomerat, yang  sebelumnya enggan  atau takut di  cap  Islam yang  identik dengan kolot. Praktek kenegaraan kita semakin mendengar dan  memperhatikan suara  mayoritas rakyat yang  selama ini  dihadang. Kajian  mengenai Islam  semakin banyak, seminar, simposium, mass media  cetak, literatur mengenai Islam juga semakin menjamur. Semua  media  elektronik memberikan  perhatian besar terhadap dakwah Islam. Perangkat hukum Islam dilengkapi misalnya pengadilan agama, kompilasi hukum lslam, label/sertifikasi makanan halal haram dan  lain sebagainya. Fenomena terakhir munculnya lembaga bisnis,  lembaga keuangan, asuransi yang menerapkan syariat Islam.

Praktek bisnis ini mau tidak mau harus memperhatikan fenomena ini. Bank  menyesuaikan dirinya dengan syariah,  asuransi juga  demikian, makanan dan obat-obatan juga demikian. Skala internasional kita melihat bagaimana pemerintah dimanapun,  harus memperhatikan kebutuhan umat Islam.  Di  Singapura misalnya pemerintah  menyediakan makanan halal dan barang halal untuk konsumsi umat Islam. Kalau tidak ia khawatir pemasukan dari  sektor pariwisata bisa menurun. British Air Ways  sejak akhir tahun 1980-an telah menyediakan makanan, semuanya hanya makanan halal. Di Australia baru-baru ini telah  dibuka School of Islam, cara penyembelihan binatang sudah mernperhatikan syariah Islam. Perusahaan, perumahan,  dan  perkantoran menyediakan tempat shalat umat Islam. Demikian juga cara berpakaian, dan banyak lagi kalau kita ingin jejerkan berbagai hal yang telah memperhatikan keyakinan umat terhadap ketentuan syariah.

Masyarakat yang mengalami fenomena pergeseran itu juga berlangsung  dalam dunia ilmiah. Negara Barat tidak dapat selamanya menyembunyikan sumbangan umat Islam yang telah lebih maju lebih dahulu  (615-1250 SM) dengan  puncaknya tahun  900 – 1200 Masehi di banding  dengan sivilisasi Negara Barat  (1350-sekarang).  Filosof  Islam  yang   selama  ini disembunyikan seperti  lbnu  Rusyd,  Ibnu  Sina,  Maskaweh,  Aljabbar, Alkhawariz semakin terkuak setelah buku-buku bermutu mereka baca. Islam ternyata  menjadi transformasi  kemajuan kebudayaan masyarakat sebelumnya seperti kebudayaan Romawi, Yunani, Persia, Cina, India, dan sebagainya. Islam menurut Watt (1995) telah memberikan sumbangan besar terhadap  kebudayaan Barat mengemukakan ternyata tidak   hanya   sebagai penerjemah  alam  pikiran Yunani   tetapi  juga mengembangkannya dalam bentuk jadi yang kemudian ditransformasikan negara Barat dan melahirkan kemajuan dunia  saat ini yang juga harus kita akui sebagai   hasil jerih payah  kebudayaan Negara Barat. Tetapi untuk  meniadakan sumbangan umat Islam  dalam  kemajuan peradaban  manusia  saat  ini adalah suatu sifat kerdil yang tidak sesuai  dengan  tradisi ilmiah.

Keadaan ini juga berlangsung di semua disiplin ilmu tidak terkecuali ilmu  Akuntansi. Dalam  berbagai  tulisan mengenai tanggapan atau persisnya kritik  terhadap  akuntansi sekarang tampak ketidakpuasan terhadap apa sesungguhnya yang diberikan akuntansi konvensional pada masyarakat. Akuntansi  jika berfungsi  sebagai sumber  informasi dalam proses pengambilan keputusan maka ditemukan tiga  hal: (1)    Kompleksitas  proses  pengambilan  keputusan dalam  bisnis saat  ini tidak bisa hanya  mengandalkan informasi akuntansi; (2)      Jika selama  ini  sumber  informasi  akuntansi  dinilai  dominan  maka ternyata  situasi  ekonomi  maupun bisnis  justru  masih  mengalami berbagai kerugian, korupsi, kecurangan, crash, depresi, dan sebagainya. Artinya informasi akuntansi yang selama ini dianggap sebagai dasar pengambilan keputusan ternyata banyak keputusan yang diambil dari sumber itu tidak menghasilkan output yang baik bahkan yang terjadi depresi, bangkrut, ekonomi yang lesu, dan sebagainya; (3)    Unsur etika semakin  longgar.  Karena informasi  akuntansi dianggap bebas nilai maka akuntansi dibawa  oleh pihak  yang berkepentingan untuk vested-nya sehingga bisa merugikan masyarakat.

Tujuan penelitian ini diharapkan dapat memunculkan pemikiran baru dari pakar akuntansi internasional tentang akuntansi Islam yang subtansial karena akuntansi harus merubah diri atau “introspeksi” jika seandainya  ia tidak mau  ditinggalkan  pemakainya atau dimasukkan dalam museum peradaban. Salah satu pemikiran itu adalah perlunya akuntansi menggeser fungsinya dari decision making facilitating function ke arah lain yang lebih  bermanfaat.  Dari sini maka   muncullah  fungsi  accountability  yang sebenarnya telah ada sejak kelahirannya (Lee, 1994). Lee yang menganjurkan itu dalam makalahnya pada  seminar  internasional yang membahas isu tersebut menyatakan bahwa  akuntansi konvensional harus disempurnakan dengan menambah media: (1)    Penilaian terhadap efisiensi manajemen; (2)   Pengungkapan terhadap kecurangan manajemen; (3)    Penjelasan mengenai budget atau rencana  kerja; (4)     Akuntansi harus  semakin menghilangkan unsur  alokasi,  akuntansi harus  lebih scientific; (5)    Akuntansi  harus menyajikan informasi yang  relevan,  tidak  hanya informasi kuantitatif tetapi juga kualitatif.

 

Metode Penelitian

Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif  kualitatif.  Metode  ini  digunakan  untuk mendapatkan pemahaman dan gambaran yang utuh mengenai sebuah fenomena pustaka tentang konsep menuju peradaban akuntansi Islam yang merupakan akar penyebab mengapa praktik akuntansi konvensional  ”sangat berbeda”  dengan  cita-cita  luhur  akuntansi tentang kebenaran, keadilan, dan sosial. Koleksi   data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi studi pustaka atau dokumentasi. Peneliti berperan sebagai key instrument, kehadirannya   diketahui sebagai   informan, dan bersifat  observative  non  participant (Kariyoto, 2016).  Peneliti meninjau dan menelaah   aspek-aspek yang menjadi proses design   pemikiran akuntansi Islam. Data informasi tambahan digali melalui pengalaman praktis sebagai anggota penulis artikel multi paradigma. Organisasi hasil penelitian digambarkan melalui analisis deskriptif ditinjau dari beberapa konsep: (1) konsep akuntansi  Islam; (2) akuntansi Islam  dalam perspektif pakar akuntansi internasional (3) pendorong munculnya akuntansi Islam, (3) kesimpulan.

 

Konsep Akuntansi  Islam

Konsep fenomena akuntansi Islam   telah  diseminarkan di  Konferensi  lnternasional Akuntansi di Adelaide Australia 1994 yang lalu. Kecenderungan ini ternyata kalau kita kaji sama  dengan pernyataan yang   sudah populer di  atas  back  to  nature atau back to basic. Awal sejarahnya akuntansi muncul untuk  pertanggungjawaban sebagaimana jiwa ayat Al Quran  surat Al Baqarah 282 dan juga sejarah awal munculnya profesi auditing. Semakin  berkembangnya  praktek ekonomi dimana produksi  bukan lagi hanya untuk  konsumsi  sendiri atau konsumsi  lokal maka  muncullah praktek perdagangan. Muncullah perkembangan alat tukar  dari  metode barter sebelumnya. Dari  situ  muncullah perbedaan waktu dan tempat transaksi yang memerlukan catatan atau media  catatan baik bentuk batu,  coin, kayu,  tanah liat, dan  bentuk lainnya. Itulah yang ditemukan dari  berbagai penemuan arkeologi di Mesir  Kuno,  Romawi, Ona, juga di Eropa. Kemudian bisnis semakin luas, praktek agen semakin banyak sehingga pemilik  tidak bisa langsung lagi mengawasi bisnisnya maka dalam proses  pembagian laba misalnya maka mereka  memerlukan pihak  lain yang independen untuk  dapat memberikan kesaksian terhadap perhitungan si agen tadi, inilah embrio Auditor.

Islam  ternyata melalui  Al Quran,  Allah  sudah menggariskan bahwa       konsep akuntansinya adalah penekanan pada  pertanggungjawaban atau occountability.  Hal  ini  dapat dilihat  dalam Surat  Al-Baqarah  ayat 282 disebutkan: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah  tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan  hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya  dengan  benar.  Dan janganlah  penulis enggan  menuliskannya sebagaimana Allah telah  mengajarkannya, maka hendaklah  ia menulis,   dan hendaklah orang berutang itu mengimlakkan apa yang ditulis itu, dan hendaklah ia bertakwa  kepada  Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akal atau lemah keadaannya atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan,  maka, hendaklah wakilnya mengimlakkan dengan jujur dan persaksikanlah degan dua orang saksi dari orang laki-laki di antara  kamu  dan seterusnya … ” (lihat Al Quran dan Tetjemahannya,  YPPA, PT Bumi Restu).

Surat  Al-Baqarah  ayat 282 menyebutkan kewajiban bagi  umat  mukmin  untuk menulis setiap transaksi  yang masih belum tuntas (not completed atau non cash).  Dalam  ayat ini jelas sekali  tujuan  perintah  ini  untuk menjaga: Keadilan  dan   Kebenaran.  Artinya  perintah itu  ditekankan  pada kepentingan pertanggungjawaban (accountability) agar pihak yang terlibat dalam transaksi itu tidak dirugikan,  tidak menimbulkan  konflik, dan adil sehingga perlu para saksi. Al Quran melindungi kepentingan masyarakat dengan menjaga terciptanya keadilan dan  kebenaran. Oleh  karenanya tekanan dari akuntansi bukan pengambilan keputusan tetapi pertanggungjawaban.  Inilah keindahan atau the beauty of Islam itu. Sadar tidak sadar ternyata disiplin ilmu akuntansi yang sudah melanglang buana dalam sifat decision making tools-nya kembali ke awal kembali ke basic atau nature aslinya pertanggungjawaban,  teryata  sesuai dengan  konsep Islam. Kecenderungan munculnya “convergency” antara  konsep kapitalis Barat yang sudah  terkoreksi, dengan  konsep Islam.

Anggapan terhadap  keberadaan akuntansi Islam ini  tentu  masih banyak dipertanyakan  orang. Sama  halnya pada   masa   lalu orang mempertanyakan apakah ada Ekonomi  Islam. Apakah ada  politik Islam apakah  ada Bank Islam, Asuransi  Islam, Pasar Modal Islam, apakah ada Akuntansi  Islam, dan  lain sebagainya. Hal ini lumrah saja dan  sangat bergantung pada batasan atau definisi yang dipakai dan kejujuran ilmiah atau pengetahuan dari masing-masing pencetus  itu. Namun, lambat laun semua yang dahulunya masih dalam  taraf konsep akhirnya muncul juga sebagai fenomena empiris seperti  Bank Islam, Asuransi Islam, Makanan Islam, dan lain sebagainya.

 

Akuntansi Islam dalam Perspektif Pakar Akuntansi Internasional

Pakar akuntansi internasional  dalam beberapa artikel  yang  telah ditulis  membahas dan membenarkan adanya eksistensi Akuntansi Islam itu.  Beberapa di antaranya: (1)    Robert Arnold Russel; (2)    Hamid, Shaari  Russel Craig, Frank Oarke; (3)   Gambling dan R.A.A. Karim;  (4)   Belkaoui Ahmed R.;  (5)    Sabri  dan Hisham; (6)    Akram Khan; (7)     Ali Shawki;  (8)   Muhammad Khir; (9)    D.R. Scott; (10)  Hendriksen; (11)   Toshikabu Hayashi; (12)   Solyan Syafri Harahap; (13)  Gerhard G. Mueller, Helen  Gemon, Gary Meek; (14) Hisham  M. Jabr Nibal dan  R. Sabri  ; (15)   Iwan Triyuwono; (16)  Muhammad Akhyar Adnan; (17)   Omar Abdullah Zaid.

Kita jelaskan secara singkat beberapa pendapat mereka ini sebagai berikut Robert Arnold Russel  mengemukakan bahwa sebelum dikenal double  entry dalam  Pacioli (1986: 203) sudah ada sistem double  entry Arab yang  lebih canggih yang merupakan dasar  kemajuan bisnis  di Eropa pada abad pertengahan. Shaari  Hamid, Russel  Craig, dan Frank Oarke (1993) mengemukakan bahwa selama ini kajian mengenai pengaruh budaya  sudah banyak namun tidak membahas lebih lugas unsur agama,  padahal  unsur ini bagi masyarakat tertentu khususnya di Timur,  agama Islam sangat  berperan dalam menggerakkan setiap  motivasinya. Menurut Hamid et al jika dilihat dari  upaya untuk harmonisasi akuntansi maka akuntansi Islam akan lebih cepat

menjadi  standar  internasional karena sifat Islam  itu yang bersifat  “borderless” yang tidak melihat batas negara. la adalah universal.

Gambling dan R.A.A. Karim (1986) meninjau dari berbagai sudut antara lain ia mengemukakan bahwa menurut  teori colonial model jika ada masyarakat  Islam,  maka otomatis  ekonominya  Islam  dan   juga akuntansinya mesti Islam.  Kemudian ia menyinggung bahwa  dalam  Islam dikenal zakat sebagai upaya menyelesaikan masalah sosial. Akuntansi Islam  sangat menekankan pada  aspek  sosial  bukan hanya  kepentingan Investor atau pemilik modal  saja.  (1995) dalam bukunya  terbaru  mengenai Akuntansi lnternasional mengemukakan dalam merumuskan model akuntansi di berbagai negara dikenal berbagai aliran, ada aliran Arnerika, Eropa,  dan saat ini ada  emerging model antara lain adalah  Akuntansi Islam.

Sabri  dan  Hisham (1992) membahas akuntansi dari  segi  etika profesi Akuntansi Islam dan   mengemukakan bahwa tujuan Akuntansi Islam itu adalah menghitung laba rugi yang tepat, mendorong dan mengikuti syariat Islam,  menilai  efisiensi  manajemen, melaporkan yang baik, dan keterikatan pada keadilan dan  kebenaran. Ali Shawki Shehata mengemukakan bahwa  akuntansi bukan asing  bagi masyarakat Islam  karena  ia sejak dahulu sudah memiliki baitul maal    atau rumah harta atau bendahara negara tidak  mungkin harta masyarakat yang   sebanyak itu  tidak  mungkin ada pencatatan atau akuntansi. Menurut beliau akuntansi yang  dikenal namanya kitabat alamwal”  (pencatatan uang)  dan para ahli Islam sudah  menulis  masalah ini dalam karya-karyanya.

Muhammad Khir (1992) mengemukakan bahwa Akuntansi Islam dalam masyarakat yang  sedang berubah memiliki peran yang  sangat penting karena  ia  menekankan pada aspek  keadilan dan  kebenaran.  Disini  penekanan pada   pertanggungjawaban lebih besar dibandingkan dengan decision making.  Scott (1995  cet.  2) sebenarnya tidak  secara  eksplisit mengemukakan Akuntansi  Islam  tetapi dia  merupakan pelopor perumusan akuntansi berdasarkan pada aspek keadilan, kebenaran, etika. Karenanya sejalan  dengan konsep  Akuntansi Islam. Hendriksen juga  tidak menyinggung secara eksplisit tentang Akuntansi  Islam  ia hanya  mengakui bahwa penggunaan angka  Arab  sangat banyak peranannya dalam perkembangan akuntansi.

Hayashi (1995) termasuk pelaku riset akuntansi yang lebih dalam. Karya  ini merupakan tesisnya  dalam program master of degree di lnternational Japan  of Tokyo.  Dalam  bukunya ini ia membahas akuntansi kapitalis,  konsep  Akuntansi Islam,  perhitungan zakat,  dan  studi  kasus Feisal  Islamic Bank  di  Kairo  dan  praktek bisnis  di Arab  Saudi.  Dalam membandingkan Akuntansi  Islam  dan  Akuntansi  Kapitalis  Hayashi mengemukakan perbedaan mendasar antara keduanya. Akuntansi Islam memiliki  “meta rule” yaitu hukum syariah yang digambarkan oleh  Al Quran  dan  Hadis  sedangkan Akuntansi Kapitalis tidak memiliki  itu.  Dia hanya bergantung  pada keinginan user sehingga bersifat lokal  dan situasional. Kemudian Hayashi juga menyinggung fungsi  akuntan di masyarakat Islam. Menurut beliau fungsi akuntan  (mutasahib) sangat luas karena bukan hanya melakukan pencatatan keuangan tetapi juga berwenang mengawasi pelaksanaan kegiatan perdagangan yang jujur, adil, pelaksanaan hukum beribadah, dan hukum syariah lainnya. Ia berwenang memeriksa apakah timbangan pedagang benar, apakah ada  yang  menimbun barang, dan apakah iklan benar.  Ia juga berhak menegur  orang yang  berkeliaran sewaktu shalat Jumat, orang yang makan secara terbuka  pada waktu puasa Ramadhan. Fungsi  ini masih  ada  di Arab  Saudi.  Di Malaysia  ada  polisi susila  yang  bertugas menjaga kemungkinan orang melanggar norma kesusilaan, misalnya berduaan dengan yang  bukan  pasangan yang  sah. Karena di sana khusus muslim tidak dibenarkan main judi, minuman keras, ganja, atau berselingkuh.

Hayashi dalam pandangannya juga  menyinggung fungsi  Tuhan  sebagai “Akuntan”. Tuhan melakukan pencatatan amal  manusia di dunia dan akan dilaporkan nanti di hari akhirat dimana setiap orang akan mempertanggungjawabkan  perbuatannya. Dari  rapor  inilah nanti manusia ditentukan  nasibnya apakah  masuk  azab (neraka)  atau kenikmatan sorga jannatun  na’im.  Dalam  membahas zakat ia  menyatakan  bahwa dalam perhitungan  zakat perlu  prinsip akuntansi. Oleh karenanya ia mencoba memberikan saran bahwa menurut Akuntansi Islam maka metode penilaian yang  tepat adalah market price bukan historical cost sebagaimana dalam Akuntansi Kapitalis.

Harahap (1992) melihat dari sudut nilai-nilai  Islam yang ada di dalam konsep Akuntansi Kapitalis. Analisis Harahap  terhadap prinsip dan  sifat-sifat  akuntansi beliau  mengemukakan, bahwa  banyak prinsip itu yang  sesuai  dengan konsep Islam seperti: prinsip substance over form, reliability,  objectivity,  timelines,   dan  lain sebagainya. Dalam  membahas mengenai perbedaan Akuntansi Islam  dengan Akuntansi Konvensional  beliau membahas bahwa Akuntansi  Kapitalis mengutamakan pihak pemodal sedangkan Akuntansi Islam mengutamakan semua pihak bukan saja pemodal tetapi juga karyawan, pemerintah,  sosial lingkungan dan nilai agama. Dan  sama  dengan Hayashi ia berpendapat bahwa ayat 282 Al-Baqarah  sebenarnya sudah jelas bahwa  akuntansi wajib bagi  muslim baik sebagai  fardu  ‘ain  dalam  menghitung zakat pribadi dan  mencatat transaksi muamalat maupun dalam  memanaj baitul maal dan menghitung zakat perusahaan. Untuk mencapai rumusan Akuntansi Islam beliau mengatakan bahwa saat ini  tidak  ada  rumusan lengkap tentang Akuntansi Islam  semapan akuntansi kapitalis. Kesulitannya ladang Akuntansi Islam itu sebagaimana dalam  teori colonial model tidak ada. Kalaupun ada belum ada kesepakatan umat terhadap misalnya Konsep  Sudan, Konsep  Malaysia,  Konsep  Iran. Untuk itu maka Akuntansi Kapitalis yang juga terus disempurnakan sesuai tuntutan masyarakat ternyata dapat dipakai sebagai  landasan berpijak dalam menuju konsep Akuntansi  Islam.  Dipangkas  mana yang bertentangan dengan syariah  dan  ditambah mana  yang  belum masuk. Menurut beliau konsep kapitalis memiliki banyak  compatability dengan konsep  ekonomi  Islam.  Sehingga  dia yakin   konsep  Akuntansi Konvensional (kapitalis) saat ini  akan  menuju irama  Akuntansi Islam.

Fenomena tersebut  dilihatnya dari  munculnya trend  dalam akuntansi seperti munculnya ide Lee, isu Akuntansi Pertambahan Nilai, Akuntansi Sumber Daya Manusia, Akuntansi Karyawan, Akuntansi Pertanggung Jawab Sosial atau Akuntansi Sosio Ekonomi,  dan  lain sebagainya.  Mueller (1991), Belkaoui  (1995:  43) atau /Mueller (1991: 15-18)  dan  kawan-kawan  mengemukakan penggolongan pola  pengembangan akuntansi di dunia: (1)  Model  lnggris,  Amerika  Utara, Belanda  dengan penekanan pada  investor dan  kreditur; (2)    Model  Kontinental. Khususnya yang berlaku di Eropa  dan Jepang dengan orientasi pada  Akuntansi Pemerintahan, Pajak, dan  Undang-undang;  (3)    Model Amerika Selatan, fokus Akuntansi untuk inflasi. (4)    Model yang  baru  muncul  (emerging model),  termasuk di dalamnya Akuntansi Islam  dengan fokus pada kesesuaian dengan syariah dan Model Standar Akuntansi lnternasional dengan fokus pada  kesesuaian dengan IASC: (lnternational Accounting Standard Committee).

Sabri  dan  Jabr (1992 atau  Belkoui,  1994) membahas masalah bisnis dan  etika  akuntansi dalam  Islam.   Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa  konsep Akuntansi Islam itu jelas ada  demikian juga sejarahnya. Tidak mungkin umat Islam yang telah pernah menjadi imperium atau adikuasa di dunia ini dan telah memiliki dan  menguasai teknologi maju pada  masanya tidak  memiliki akuntansi ataupun manajemen lslam tidak mungkin tidak ada manajemen dan  Akuntansi Islam di sebuah Rumah  Sakit di Kairo yang berkapasitas tempat tidur 8000 yang  beroperasi pada   tahun  1200. Akuntansi Islam ternyata telah mulai menjadi perhatian para ahli akuntansi bukan saja dari pihak muslim tetapi juga non-muslim. Tidak mungkin tidak ada prinsip akuntansi yang jelas dalam perhitungan zakat  dalam Islam sebagai  rukun Islam yang  ketiga.

 

Pendorong Munculnya Akuntansi Islam

Akuntansi Islam ini  muncul  didorong oleh berbagai hal seperti: (1)     Meningkatnya religiousity masyarakat;  (2)    Meningkatnya tuntutan kepada etika dan tanggungjawab sosial yang selama  ini tampak diabaikan oleh akuntansi konvensional; (3)    Semakin  lambannya akuntansi konvensional mengantisipasi tuntutan masyarakat,  khususya  mengenai penekanan  pada keadilan, kebenaran, dan  kejujuran; (4)    Kebangkitan umat Islam khususnya kaum  terpelajar yang merasakan kekurangan yang  terdapat dalam  kapitalisme Barat. Kebangkitan Islam baru terasa setelah beberapa negara yang penduduknya beragama Islam, merdeka  lima puluh tahun  yang lalu seperti  Mesir, Arab Saudi, India (Pakistan dan  Bangladesh), Iran, Irak,  Indonesia, Malaysia,  dan lain sebagainya. Negara  baru  ini tentu  siap  dengan pembangunan SDM-nya dan  lahirlah  penduduk muslim  yang terpelajar dan mendapatkan ilmu dari  Barat.  Dalam  akulturasi  ilmu  ini maka  pasti ada beberapa  kontradiksi  dan  disinilah ia  bersikap. Hal tersebut menginpirasi  perlunya  digali keyakinan akan  agama  yang dianggapnya konprehensif. Sehingga  dalam akuntansi lahirlah ilmu Akuntansi Islam  ini.   Dalam Asia  Megatrends,  Naisbitt (1995:102) mengemukakan: Kebangkitan Islam, sebagaimana juga agama lain, sebagian disebabkan reaksi terhadap modernisasi dan pengaruh luar lainynnya.  Kurun  25 tahun  terakhir ini terlihat pertumbulum Islam yang sangat menakjubkan ” …. Para remaja mengamalkan agama dengan kegiatan yang lebih intensif”; (5)  Perkembangan atau anatomi disiplin akuntansi  itu sendiri; (6)     Kebutuhan akan sistem akuntansi dalam  lembaga bisnis syariah seperti Bank, Asuransi, Pasar  Modal,  Trading.  dan lain-lain; (7) Kebutuhan yang semakin besar pada  norma perhitungan zakat dengan menggunakan norma akuntansi yang sudah mapan sebagai dasar perhitungan; (8)    Kebutuhan akan  pencatatan, pertanggungjawaban, dan pengawasan harta  umat misalnya dalam  Baitul  Maal  atau kekayaan milik umat Islam atau organisasinya.

 

Kesimpulan

Artikel  ini,  menyajikan beberapa artikel yang dapat kita  kumpulkan  mengenai topik Akuntansi Islam  diseluruh perpustakaan yang diterbitkan di berbagai negara di dunia ini. Bahan ini tentu masih sedikit dan  banyak lagi  yang sudah ditulis tidak dapat kita peroleh saat ini  apalagi  tulisan  lain  yang  akan muncul akan  Iebih  banyak lagi.  Beberapa doktor  baru-baru ini  telah menjadikan topik akuntansi Islam  menjadi bahasannya khususnya di  University of Wonglongong, Australia.  Bahkan pada bulan Februari 1997 di  University MacQuire diadakan konferensi  lnternasional pertama tentang akuntansi dan auditing dalam  perspektif Islam. Sebagaimana sudah tersirat di atas, akuntansi Islam adalah merupakan disiplin  ilmu bukan masalah keyakinan atau masalah tata cara ibadah ritual sebagaimana sering diduga banyak orang.  Akuntansi Islam adalah salah  satu  ilmu, disiplin ilmu, dan  sistem akuntansi sebagaimana sistem akuntansi kapitalis.

Akuntansi Islam dipelajari dan  sudah merupakan keharusan dalam ekonomi yang  semakin global.  Hal ini  misalnya didorong oleh: (1)    Munculnya  kesadaran orang membayar zakat baik  zakat pribadi maupun zakat perusahaan; (2)    Munculnya berbagai yayasan  atau organisasi Islam yang memerlukannya; (3)    Semakin   banyaknya lembaga  bisnis  yang  menerapkan syariat Islam akan  memerlukan Akuntansi Islam  dan  tenaga  yang  menguasainya. Keberadaan lembaga ini tentu  membuka peluang untuk masyarakat luas bekerja  sama  dengan lembaga ini.  Misalnya jika ada bank  yang dijalankan secara  syariah  seperti  Bank Muamalat maka bank lain atau perusahaan lain  yang  ingin meminjam atau  ingin  kerja sama, join financing,   pinjaman, atau  sindikasi  maka mau  tidak  mau perlu mengetahui  sistem akuntansi lembaga yang  ingin  bekerja  sama  ini; (4)    Demikian juga skala  internasional, sesuai dengan pendapat Mueller di atas maka  semakin banyak negara yang  akan  menerapkan model akuntansi Islam  ini.

Tulisan ini ingin mencoba memberikan pemikiran awal untuk pengkajian lebih lanjut ten-tang eksistensi akuntansi Islam. Artikel    ini tidak berpretensi dan  belum mampu menggambarkan konsep dan  isi akuntansi Islam itu sendiri  secara  komprehensif.  Hasil pembahasannya yang  dimulai  dari mendalami sifat, ciri,  dan  prinsip Akuntansi Barat  (kapitalis) kemudian dari  sana  baru kita membahas Akuntansi Islam. Bahan-bahan mengenai Akuntansi Islam masih sangat terbatas dan masih  terus menjadi bahan pembahasan dan masih bisa dipertanyakan dan didiskusikan. Hasil penelitian  ini memiliki  berbagai sudut bahasan, ada yang melihat dari sejarah, sosial, nilai-nilai, harmonisasi, dan lain sebagainya.

Beberapa  topik Akuntansi Islam  di berbagai negara: (1) Akuntansi dalam  masyarakat yang  sedang  berubah:  Sangat teliti apakah relevan? Dapatkah Islam mernberikan pemecahan? Oleh: Muhammad Khir, International Islamic  University, Kuala Lumpur, Malaysia: (2) Islam  dan  Akuntasi Sosial  oleh:  Gambling dan  R.A.A. Karim, Business School, Portsmouth Polytechnic dan  University of Kuwait; (3) Elemen Budaya dalam Harmonisasi Akuntansi Internasional. Oleh: Hamid, Russel  Craig, dan Frank Clarke University Pertanian Malaysia, Australian  National  University,  Canberra. University of Newcastle, NSW, Australia: (4) Akuntansi Islam, Dampaknya terhadap Akuntansi Barat di Masa yang Akan Datang. Oleh: Hayashi, The lnstitute of Middle East Eastern  Studies, The  International University of Japan.

Sebelum tulisan tersebut dibahas sifat  dari  akuntansi kapitalis itu yang selama ini sudah berlaku dan diterapkan di mana-mana. Dari awal  diharapkan agar kesimpulan ini sebagi umpan pengkajian artikel lebih lanjut sehingga  dapat melahirkan konsep dan praktek akuntansi yang sesuai dengan syariat Islam syang dapat  memberikan kontribusi kepada kemajuan ekonomi dan  praktek bisnis serta  perdagangan  yang lebih  jujur,  adil, bebas dari praktek kecurangan, kolusi, kedzaliman, dan penipuan lainnya. Kita dan fenomena praktek bisnis internasional memang menuju ke arah  itu. Mari  kita tatap masa depan  dengan mempersiapkan diri  dan  mencari basisnya yaitu dari Tuhan Pencipta dan Seru Sekalian Alam.  Mudah-mudahan tulisan singkat  ini ada manfaatnya untuk mempercepat perkembangan bisnis masyarakat yang adil dan beradab berbasis akuntansi Islam.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdeen, Adnan  M., and  Ugur  Yavas. 2005. Current Status of Accounting Education in Saudi Arabia. International Journal of Accounting,  Education and Research, Vol. 20, No. 2 (Spring 2005), h. 155-173.

Abe, Takuma. 1987.  A Comparative Study of Islamic Ownership, I.M.E.S. Working Papers Series, No. 10, Nigata: The Institute of Middle Eastern Studies. International University of Japan,  1987.

Belkaoui, Ahmed. 1995.  New  Environment in  International Accounting.  Issuaes and  Practices. Quorum Books, 1988.

Belkaoui, Ahmed. 1994.  The Coming Crisis in Accounting. Greenwood  Press Inc.

Gambling, Trevor  E., Karim. 2001. Toward a General Theory  of Accounting. International Journal of Accounting Education and Research.  Vol. 7, No. I Tahun 2001, h.1-13.

Hamid, Shaari, Russel Craig, dan Frank Clark. 1987.  Religion:  A Confounding Cultural Element in the International Harmonization of Accounting.  ABACUS, 1993 (p. 131-148)

Harahap, Sofyan  Syafri. 1992.  Akuntansi,  Pengawasan,  dan Manajemen, dalam Perspektif Islam.  Fakultas Ekonomi   Universitas Trisakti  Jakarta, 1991.

Hayashi, Toshikabu. 1989. On Islamic Accounting. Institute of Middle Eastern Studies, International University of Japan, 1989.

Kariyoto. 2016. Teori dan Praktik Akuntansi Syariah di Indonesia. E-Juournal Elmuhasaba. IAIN Sunan Malik Ibrahim Malang.

Lee Fred & Sharon . (1994). Social Studies in a Global Society.

Luca, Pacioli. 1986. The Father Accounting. University of Illinois  Press.

Mueller, Gerhard G, Gemon, Helen, dan Meek, Gary.1991. Accounting: An International Perspective, Homewood, II Irwin.

Muhammad. Khir (1992).  Akuntansi Islam. Islamic Fondation.   Naisbitt,  John,  Megatrends -  the  Eight Asian  Megatrends  That are Changing The World.  Nicholas Brealy Publishing Ltd,  London, 1995.

Sabri,  Nidal  R dan Jabr, M. Hisham. 1992.   Business  and Accounting Ethics in Islam dalam Ethical Consideration in Contemporary International Accounting Practice. Center for International Education and Research  in Accounting.  University of Illinois, 1992.

Scott, DR. 1976. Theory of Accounts. New York: Amo  Press, 1976.

Shahata, Shauqi Ismail. 1988.  Financial Accounting from the Islamic Point of View. (ruuariya al-muhasaba al-maliya  min manzur  Islami).  Cairo: al-zahra ala1am al-’arabi, 1988.

Watt,  W.  Montgomery. 1995.  The Influence  of Islam on  Medieval  Europe. (Chichukai  Selali no suramu), trans  by Wataru Miki, Tokyo: Chikuma-shobo.

Categories: Uncategorized Tags:
Comments are closed.