Home > Uncategorized > AKUNTANSI SYARIAH DALAM PERSPEKTIF TEORI DAN IMPLEMENTASI

AKUNTANSI SYARIAH DALAM PERSPEKTIF TEORI DAN IMPLEMENTASI

October 9th, 2017

Akuntansi Syariah dalam Perspektif Teori dan Implementasi

Kariyoto

Universitas Brawijaya

kariyoto@uib.ac,id

 

Artikel ini memiliki tujuan mendisuksikan akuntansi syariah dalam perspektif teori dan implementasi.  Metode penelitian kualitatif deskriptif  dengan asumsi akuntansi konvensional dan sejumlah persoalan  penting yang perlu dicatat.  Beberapa  di antaranya (1)   persoalan kepemihakan, (2) asumsi basic concept, (3) efek dari persoalan concept tentu saja meresap  ke tingkat standar,  atau  bahkan  metode  akuntansi yang dipilih. Berangkat dari  tiga  persoalan dasar  tersebut,  maka  semua  asumsi,  postulat,  kaidah, dan prinsip-prinsip dalam akuntansi Barat dapat diterapkan untuk lembaga-lembaga atau perusahaan yang menegakkan nilai-nilai Islam. Oleh karena  itu, perlu dirancang atau dibangun sistem,  format  akuntansi  yang  menegakkan  Islam values.  Hal  ini penting,  mengingat perilaku dan kelembagaan bisnis Islam memiliki karakteristik berbeda dengan  perilak dan lembaga  atau  perusahaan Barat. Pembicaraan akuntansi  ayariah (Islam), belakangan ini semakin santer kita dengar, baik di dalam negeri maupun luar negeri.  Walaupun Keberadaan Akuntansi Syariah Itu Sendiri­ Seperti  Halnya Dengan  Keberadaan Sistem Ekonomi Islam-Masih Dipertanyakan.  Pembicaraan Semacam  Itu Muncul Karena  Ilmu Akuntansi Yang Dipelajari Sampai Saat Ini Masih TertujudanMerujuk  Pada Sistem Akuntansi Barat, Yang Di Dalamnya Mengandung Persoalan  Sebagaimana Disebutkan  Di Atas. Sesuai Dengan  Tujuan Bab Ini, Maka Pembahasannya Terfokus  Pada Topik-Topik Sebagai Berikut.  Pendahuluan;  Akuntansi  Dalam  Kerangka Islam; Teori  Akuntansi  Syariah;  Praktik Akuntansi Syariah;  Akuntansi  Syariah: Akuntansi  Berkiaskan Zakat, Bentuk  Akuntansi  Zakat, Akuntansi  Berorientasi  Sosial; Akuntansi Pertanggungjawaban.

 

AKUNTANSI DALAM Kerangka Islam

 

Setelah Kita Kaji Keberadaan Sistem Akuntansi Kapitalis, Dapat Ditemukan Beberapa  Persoalan. Persoalan  Tersebut  Utamanya Berkaitan  Dengan Hal  Kepemihakan,  Konsep  Dasar,  Standar, Dan Metode Akuntansi. Akuntansi Pada Dasamya  Akan Selalu Berhubungan Dengan Distribusi Aktiva  Perusahaan, Hak Residual Atas Aktiva Pada  Saat Likuidasi,danHak Ekuitas (Kekayaan) Pada  Perusahaan Yang  Sedang  Berjalan  Baik.  Kesemuanya Ini  Merupakan Tujuan  Penting Yang  Hendak  Dicapai  Dalam  Penyajian  Value Added Statement Atau  Laporan  Nilai  Tambah, Yang Dalam  Teori Akuntansi Konvensional Sama  Dengan  Laporan Laba Rugi.

Pada  Saat  Kita  Menggkaji Ilmu  Atau  Teori  Akuntansi  Syariah  Tidak  Dapat  Ditinggalkan Kerangka Teori Akuntansi Konvensional. Sehubungan  Dengan Ha! Tersebut, Secara Konvensional Ada  Banyak  Teori  Yang  Berkaitan Dengan  Pembahasan Kekayaan Pemilik.  Pada  Bagian Ini Akan  Kita  Lihat Bagaimana  Teori-Teori  Yang  Ada  Itu  Berbicara dan Kemudian Disimpulkan Tentang Bagaimana  Islam  Memandang Hal  Tersebut.

 

Teori   Pemilikan  (Proprietary  Theory)

 

Teori Ini Menyatakan Bahwa Akuntansi Terjadi Karena Bentukan Dari Persamaan Dasar Sebagai Berikut.’

Aktiva – Kewajiban  = Modal

 

Artinya, Modal Adalah Sama Dengan  Aktiva Dikurangi Kewajiban. Dalam Hal Ini, Pemilik Adalah  Pusat  Perhatian. Aktiva Dianggap  Dimiliki Oleh Pemilik Dan Kewajiban/Utang Adalah Kewajiban  Pemilik. Tanpa  Memandang Mengenai  Perlakuan Utang,  Pemilikan  Dipandang Sebagai Nilai Bersih  Kesatuan Usaha  Kepada  Pemilik. Pada  Saat  Perusahaan Didirikan. Nilai Tersebut Akan  Sama  Dengan Investasi Pemilik. Selama Hidup Perusahaan, Akan  Terus Sama Dengan Investasi  Awaldan Tambahan Investasi  Serta  Akumulasi  Laba  Bersih  Di Atas Jumlah Yang  Diambil  Oleh  Pemilik.  Lnilah Yang Kemudian  Disebut Dengan  Konsep  Kekayaan.

Teori Ini Berpendapat Bahwa Pendapatan Adalah Kenaikan Atas Hak Pemilik, Sedangkan Biaya Adalah Penurunan. Dengan  Demikian Laba Bersih Akan  Secara  Langsung Menjadi Hak Pemilik dan Mencerminkan  Kenaikan  Kekayaan  Pemilikdan Karena  Laba  Adalah  Kenaikan

Kekayaan,  Maka�Segera Pula Ditambahkan  Kepada Modal Pemilik. Dividen Kas Mencerminkan

Pengambilan Modal Dan Laba Ditahan Adalah Bagian Total Pemilikan.  Dividen Saham Hanyalah Sekadar Pernindahan Dari Bagian Pernilik Yang Satu Kepada Yang Lainnya. Jadi Bukan Merupakan Laba Bagi Pemegang Saham.  Sunga Atas Pinjaman Dengan Demikian Merupakan Biaya Pemilikdan Harus  Dikurangkan  Terlebih Dahulu Sebelum Menghasilkan  Laba  Bersih.

Pajak Perseroan Diperlukan Setara Dengan Agen Dari Pemegang Saham Yang Menganggap Bahwa  Perseroan Adalah  Agen Dari Pemegang Saham  Dalam Pembayaran Pajak Yang Nyata Nyata  Pajak  Penghasilan  Dari Pemegang Saham.  Konsep  Laba Komprehensif  Ini Didasarkan Pada Propriety Theory Karena  Laba Bersih Berisi Semua Unsur Yang Mempengaruhi Pemilikan Selama  Satuan  Periode  Terkecuali Pembagian  DividendanTransaksi  Modal.

Teori Ini Lebih Menekankan Pada Hakikat Perubahan Terhadap PemilikandanKlasifikasinya

Dalam Neraca. Teori Ini Lebih Tepat  Diterapkan  Di Dalam Perusahaan Dengan  Pemilikan Tunggal Ataupun  Perusahaan Persekutuan.   Mengapa?   Karena  Adanya   Hubungan Personal   Antara Manajemen Dengan Pemilik.

Teori  Ini Merupakan Teori  Akuntansi  Yang  Paling Kuno,danBanyak  Konsep  Akuntansi Yang Dikembangkan Dari Teori Ini.2

 

 

Teori  Kekayaan (Entity  Theory)

 

Teori  Ini Menganggap Bahwa  Perusahaan Memiliki Eksistensi Yang  Terpisah.  Pemisahan  Ini Terjadi  Pada   Kepentingan PemilikdanPemegang Ekuitas  Yang  Lain. Pendiri danPernilik Perusahaan Tidak Perlu Diidentifikasikan Dengan  Eksistensi Perusahaan. Teori Ini Didasarkan Pada  Persamaan:3

 

Aktiva = Ekuitas  (Modal)

 

 

Ekuitas Pada Dasamya Adalah Kewajiban Ditambah  Dengan  Hak Pemegang Saham. Elemen Yang  Ada  Pada  Sisi  Kanan   Kadang-Kadang Disebut  Sebagai  Kewajiban,   Tetapi  Sebenamya Merupakan Petnilikan Dengan  Hak Yang Berbeda Terhadap Perusahaan. Apa Bedanya  UtangdanHak Pemegang Saham.  Perbedaan Utama  Antara  UtangdanHak Pemegang Saham  Berkait  Dengan  Penilaian  Atas Hak Kreditor  Yang Dapat  Ditentukan  Secara  Terpisah Bila Perusahaan Bubar, Sedangkan Hak Para Pemegang Saham Diukur Dengan  Penilaian

Aktiva  Mula-Mula Yang Ditanamkan Ditambah Dengan Laba Yang Diinvestasikan  Kembali Cla                                                  Revaluasi  Yang Terjadi Sesudahnya.  Namun Demikian Hak Untuk Menerima  Pembayaran Dividen

;

danBagian Dari Aktiva Bersih Pada Saat Likuidasi Adalah Hak Sebagai Pemegang Hak Pemilikan I

 

Clan Bukan  Sebagai  Pemilik Atas  Aktiva Tertentu   Teori  Ini Memandang Utang  Adalah  Kewajiban  Khusus  Dari  Perusahaan danAktiva Mencenninkan Hak Perusahaan Untuk Menerima  Barang, Jasa Atau Manfaat Yang Lain. Penilaian Kembali Aktiva Akan  Berarti  Cerminan  Dari  Pengukuran Manfaat  Yang  Akan  Diterima  Oleh Perusahaan. Laba Bersih Perusahaan Umumnya Dinyatakan Sebagai  Perubahan Bersih  Para Pemegang Ekuitas, Tidak Termasuk Perubahan Yang Timbul Dari Pengltmuman Dividen Dalam Transaksi Modal.  Hal Ini Tidak Berarti  Sama  Bahwa  Laba Bersih  Adalah  Laba  Pemilik Seperti Pada  Teori  Pemilikan.  Namun  Demikian  Mencenninkan Perubahan Bersih Terhadap Posisi Ekuitas Setelah  Dikurangi  Semua  Hak Atau  Klaim Tennasuk Bunga  Utang  Jangka PanjangdanPajak  Penghasilan,  Yang Hanya  Akan  Menjadi  Laba Pemegang Saham  Bila Nilai Penanaman Mengalami  Kenaikan Atau Terdapat Pengumuman Dividen. Dengan  Demikian,  Laba Ditahan Adalah  Merupakan Kekayaan  Perusahaan Itu Sendiri.

 

 

Teorl  Dana (Fund  Theory)

 

Berbeda  Dengan  Teori  Pemilikan,  Teori Dana  Melepaskan  Hubungan Personal  Yang Dianut Oleh Teori Proprietorydan Personalisasi  Perusahaan Sebagai Kesatuan Ekonomi Yang Dibuat Sah Pada Teori Kekayaan.  Teori Dana Menggantinya Dengan Kesatuan Kegiatan Etau Orientasi Kegiatan Sebagai Landasan Akuntansi. Kepentingan Ini Dikenal Dengan  ”FUND” Yang Termasuk Di  Dalamnya  Kelompok  Aktiva  Dan  Kewajiban  Yang  Terikat  Serta  Pembatasan Yang Mencerminkan Fungsi Ekonomik Yang Khusus Ataupun  Kegiatan Yang Khusus. Teori Ini Didasarkan Pada  Persamaan:4

 

Akt’va =  Pernbatasan  Aktiva

 

 

Aktiva Mencerminkan  Prospek  Jasa  Bagi  Unit Operasional.   Utang  Merupakan Pembatasan Terhadap Aktiva Khusus Ataupun Aktiva Secara Umum.  Modal Yang Ditanamkan Merupakan Pembatasan Yang Legal Atapun  Finansial Terhadap Penggunaan Aktiva, Sehingga Modal Yang Ditanamkan Harus Dijaga Keberadaannya, Bila Tidak Terdapat Likuidasi Sebagian Ataupun  Secara Keseluruhan.  Dengan Demikian, Dalam Teori Ini Semua  Ekuitas Mencerminkan Pembatasan Yang Dilakukan Secara  Legal, Kontrak,  Manajerial, Dan  Finansial.

Konsep Ini Bermanfaat Sekali Bagi Perusahaan Yang Tidak Mencari Laba. Seperti Lembaga Pemerintah, Universitas,  Rumah  Sakit, Lembaga Sosial. Teori Ini Tidak Menempatkan Konsep Laba Sebagai Komponen Utarna Dalam Laporan Keuangan.  Yang Terpenting Adalah Deskripsi Dari Operasi Dana  Dilaporkan  Secara Jelas Dalam Fund_Statement. Laporan Keuangan Utarna Berupa Ringkasan Statistik Dari Sumber Dan Penggunaan Dana.  Sedangkan Laporan Laba Rugi Bila Ada Hanyalah Tambahan Dari Fund Statement Sebagai Deskripsi Dana  Yang Dihasilkan Dari Operasi.

 

TEORI  AKUNTANSI  SYARIAH

 

Ada Suatu Perubahan Luar Biasa Dalam Kancah Bidang Ilmu Akuntansi Untuk Beberapa  Dekade Belakangan  Ini.  Sebelum  Tahun  1970-An Ada  Anggapan Tentang Akuntansi  Sebagai  Ilmu Pengetahuan  Dan  Praktik Yang  Bebas Dari  Nilai  (Value-Free)  Sudah  Mulai  Digoyang Keberadaannya.5  Anggapan Tersebut  Sejak Lama Mendominasi Sebagian  Besar Akuntan  Dan Para   Peneliti  Di Bidang  Akuntansi.  Keadaan  Semacam   Ini  Semakin   Kuat Karena  Adanya Kecenderungan Perilaku Masyarakat Yang Terbawa Oleh Arus Era Informasi Dan Globalisasi.

Pada  era informasidanglobalisasi dalam bidang akuntansi  ada upaya hannonisasi praktik­ praktik akuntansi. Hal ini berarti ada kehendak  untuk memberlakukan praktik-praktik akuntansi secara  seragam   seluruh  dunia.  Dengan  kata  lain,  nilai-nilai lokal praktik  akuntansi-yang mungkin  sangat  berbeda  dengan  praktik dunia intemasional-sedapat mungkin dieliminasi karena  keberagaman praktik akuntansi di setiap negara  dianggap  menyulitkan dalam menafsirkan   laporan   keuangan,   atau  praktik  akuntansi   yang  beragam   itu tidak  dapat diperbandingkan (uncomparable). 6

Kasus  ini mengundang  reaksi  banyak   kalangan,  sehingga  muncullah  pandangan­ pandangan yang  bersifat  pro dankontra.  Mereka  yang  berpandangan kontra  mengecam bahwa tindakan untuk melakukan hannonisasi merupakan tindakan pelecehan terhadap nilai­ nilai lokal. Mereka justru melihat bahwa sebetulnya akuntansi adalah suatu bentuk pengetahuandanpraktik yang banyak ditentukan  lingkungannya (nonvalue-free). Bahkan ada yang mengatakan akuntansi  adalah  ”anak” yang lahir dari budaya setempat (lokal). 7

Pandangan kedua, memang secara  eksplisit menolak  pandangan pertama  yang bersifat fungsionalis danpositivistik,  kalau  ditelusuri ke belakang  akar  pemikirannya  berasal  dari August  Comte.  Pemikiran  ini memiliki sifat  reduksionis, yaitu  menghilangkan kandungan nilai yang seharusnya terkandung dalam ilmu pengetahuandanpraktik akuntansi.  Keringnya nilai ini menyebabkan masyarakat bisnis, ketidakseimbangan tatanan sosial,dankerusakan lingkungan  terjadi.

Berpijak dari kasus di atas, usaha untuk mencari bentuk akuntansi yang berwajah humanis, emansipatori,  transendental, danteleologikal  merupakan upaya   yang  niscaya.  Timbul pertanyaan, upaya  apa  yang  harus  dilakukan?  Upaya  ini secara  filosofis dan  metodologis dapat  dilakukan  dengan menggunakan meta-perspektit, yaitu suatu pandangan yang berusaha berada  di atas  perspektif-perspektif yang ada. Karena  dengan  cara ini pandangan-pandangan filosofis, seperti pandangan tentang  hakikat manusia dan masyarakat, ontologi, epistemologi, aksiologi,  dan  metodologi,  menjadi  lebih luas dan utuh,  sehingga  formulasi  pengetahuan dan  praktik  akuntansi  menjadi lebih humanis dan syarat  dengan  nilai.

Akuntansi syariah, menurut  lwan Triyuwono danGaffikin dikatakan, merupakan salah satu  upaya  mendekonstruksi akuntansi  modern  ke dalam  bentuk  yang  humanis dan syarat nilai. Tujuan  diciptakannya  akuntansi  syariah  adalah  terciptanya peradaban bisnis dengan wawasan humanis, emansipatoris, transendental,danteleologikal.8   Konsekuensi ontologis upaya  ini adalah  bahwa  akuntan  secara  kritis harus  mampu  membebaskan manusia  dari ikatan realitas  peradaban, beserta  jaringan-jaringan kuasanya, kemudian memberikan  atau menciptakan realitas alternatif dengan seperangkat jaringan-jaringan kuasa Ilahi yang mengikat manusia  dalam hidup sehari-hari  (ontologi  tauhid. Dengan   cara  demikian,  realitas  altematif diharapkan  akan  dapat   membangkitkan kesadaran diri secara  penuh  akan kepatuhan dan ketundukan seseorang kepada  kuasa Al• lah. Dengan kesadaran diri tersebut, ia akan selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam dimensi waktu dan tempat  di mana  ia berada.  Dengan  dernikian, melalui akuntansi syariah, realitas sosial akan  dirancang  dan  dibangun  melalui muatan   nilai  tauhid dan  ketundukan  pada jaringan-jaringan kuasa Ilahi. Kesemuanya itu dilakukan dengan  perspektif khalifat-ul/ah Fil srdh. Perspektif  ini berarti  suatu cara pandang yang sadar  akan  hakikat diri manusia dan tanggung  jawab kelak di kemudian hari di hadapan Allah SWT

Bagaimana idealnya dan  realisasinya?  Cita  yang  cukup  ideal  ini bisa  direalisasikan apabila organisasi dikiaskan atau dimetamorfosiskan. Sebagai contoh, misalnya zakat. Realitas organisasi yang dikiaskan (metafora) dengan  zakat merupakan realitas dalam bentuk  yang lebih operasional,  Ia sebagai salah satu altematif  untuk menciptakan realitas organisasi yang terikat pada jaringan-jaringan kuasa Ilahi. Oleh karena  itu, apabila seluruh perusahaan bisnis

telal. menerapkan kiasan/metamorfora zakat, �a akan terbentuk jaringan-jaringan realitas

orgaaisasi  yang tunduk dan mengikuti  realitas kuasa llahi.

Akan  tetapi  walau bagaimanapun, keberadaan teori akuntansi syariah masih  dalam tataran filosofis.?  Berpijak dari dasar filosofis ini, untuk selanjutnya dapat dijadikan petunjuk atau rnernberikan  arah bagairnana  akuntansi-syariah dapat dibangun.  Hal ini bukan berarti bahwa dalam membangun akuntansi syariah nantinya  hanya diperoleh dengan mendasarkan pada  pendekatan deduktif  (deductive approach) saja, atau  pendekatan induktif (inductive approach) saja, atau pendekatan etika (ethical approach), atau pendekatan sosiologi (sociological approach) saja, atau juga pendekatan ekonomi  (economic approach) saja, secara terpisah antara satu  dengan  yang Iain.”  Namun,  secara  metodologis, akuntansi syariah memandang pendekatan-pendekatan  tersebut tidak  mempunyai   batas-batas yang  tegas, bahkan  dalam implikasinya pendekatan  tersebut telah menjadikan agama  (melalui kitab sucinya) sebagai  salah satu sumber  rujukan dalam membangun model  akuntansi  syariah.

Akuntansi syariah pada intinya akuntansi yang akan dinilai kembali dari sudut pandangan Islam. Kecenderungan lahimya akuntansi syariah adalah sangat  baru dan para ahli akuntansi syariah  belum  secara  jelas  membuat tujuannya.  Hal  ini dapat  menjadi  suatu  kasus  jika diganti istilah ekonomi dunia ke akuntansi  sebagaimana dikatakan  oleh Baqir as-Sadr, bahwa “ekonorni  Islam …  bukanlah suatu pel_ajaran tetapi suatu  teori ….  Teori artinya  metode  dan alat belajar untuk,menafsirkan”. 11

Oleh  karena  itu,  akuntansi  syariah   adalah  teori  yang   menjelaskan  bagaimana  mengalokasikan.sumber-sumber yang ada secara  adil bukan  pelajaran tentang  bagaimana akuntansi itu ada. Sehubungan dengan  ini Shahata menjelaskan kemungkinan keberadaan akuntansi  syariah sebagai berikut: Postulat,  standar, penjelasan dan prinsip akuntansi yang menggambarkan semua hal . .. karenanya secara teoretis akuntansi memiliki konsep, prinsip, dan tujuan Islam dan semua ini secara serentak berjalan  bersama bidang ekonomi,  sosial, politik,  ideologi,  etika yang dimiliki  Islam, kehidupan Islam dan keadilan, dan hukum Islam. Dan Islam adalah suatu  program yang memiliki  bidang­ bidang ekonomi, sosial, politik,  ideologi, manajemen,  akuntansi, dan lain-lain. Semua ini adalah satu paket  yang tak  bisa dipisah.1 2

 

Akuntansi dalam pandangan Islam adalah tergantung pada tujuan masyarakat Islam yang sempuma. Perrnasalahan sekarang adalah apakah yang dimaksud dengan akuntansi syariah atau akuntansi Islam? Islam sebagai suatu program dan aktivitas yang mencakup semua akuntansi (perhitungan) yang mengatur masyarakat. Berkenaan dengan ini, Shahata menjelaskan maksud tersebut dalam rangka mempublikasik�n akuntansi Islam dalam bentuk definisi atau pemyataan sebagai berikut:

 

 

Kita  ingin menunjukkan  aspek Islam dari akuntansi yang bersumber hukum  hanya dari  prinsip Islam, standar yang  unik, tujuannya,  prinsip atau  hal-hal yang  tercantum dalam  Qur’an  dan Sunnah, tetapi  dari rencana sekarang dan masa depan dan sifat akuntansi yang dapat diambil dari pandangan aspek ini sebagai suatu yang unik dan dasar dari  akuntansi. ll

 

Dalam mencari bentuk akuntansi syariah, harus berangkat dari suatu asumsi bahwa akuntansi adalah sebuah entitas yang mempunyai dua arah kekuatan. Kekuatan pertama adalah bahwa akuntansi adalah sesuatu yang dibentuk oleh lingkungannya. Kekuatan kedua adalah bahwa akuntansi adalah sesuatu yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi lingkungannya, terrnasuk perilaku manusia yang menggunakan informasi akuntansi. Jika demikian, maka usaha yang harus dilakukan oleh para akuntan adalah bagaimana mereka dapat menciptakan sebuah bentuk akuntansi yang dapat mengarahkan perilaku manusia ke arah perilaku yang etisdanke arah terbentuknya peradaban bisnis yang ideal. Menurut Triyuwono dikatakan bahwa bisnis yang ideal yaitu peradaban bisnis dengan nilai humanis, emansipatoris,  transendental,danteologikal. 14

Sesuai dengan sifat bisnis tersebut, maka akuntansi syariah juga harus memiliki sifat humanis,  emensipetoris,  transendental,danteologikal. Lebih jauh Triyuwono menguraikan sifat-sifat tersebut sebagai berikut. Nilai humanis akuntansi syariah adalah, bahwa akuntansi

yang dibentuk ini ditujukan untuk memanusiakan manusia, atau mengembalikan manusia pada fitrahnya yang suci. Sebab menurut penelitian Morgan (1988) diketahui, bahwa praktik

akuntansi telah mengakibatkan manusia menjadi less  humane.15   Atau dengan istilah lain,

bahwa masyarakat kita sedang mengalami proses dehumanisasi. Sebagaimana Kuntowidjojo mengatakan: Kita tahu bahwa kita sekarang  mengalami proses dehumanisasi karena masyarakat industrial kita menjadikan kita sebagai bagian dari masyarakat abstrak tanpa wajah kemanusiaan. Kita rnengalami objektivikasi ketika berada di tengah-tengah mesin-mesin politik dan mesin-mesin pasar. llmu dan teknologi juga telah membantu kecenderungan reduksionistik yang melihat manusia dengan cara  parsial. 16

 

Sifat humanis akuntansi-atau bentuk  bisnis lainnya-tersebut, diharapkan dapat mendorong perilaku manusia  itu sendiri. Sehingga  manusia  sernakin kuat kesadaran dirinya tentang  hakikatnya.  Melalui kesadaran diri ten tang hakikat manusia ini merupakan landasan bagi manusia  dalam memberi  nilai emansipatoris pada  akuntansi syariah. Sifat ini berarti bahwa  tidak lagi  berlaku bentuk  dominasi  atau  penindasan dari satu  pihak  ke pihak yang lain.  Dengan   kata lain,  informasi  yang  diberikan  oleh  akuntansi  syariah  adalah berupa pembebasan dan tertuju  pada  semua  pihak  serta  tidak  menyepelekan  pihak lain,  atau akuntansi syariah akan berdiri pada posisi yang adil.

Oleh karena akuntansi syariah dibangun l:ierdasarkan syariah Islam, maka nilai transendental akuntansi syariah  terlihat jelas. Hal ini merupakan indikasi yang kuat bahwa akuntansi syariah  tidak semata-mata menjadi  instrumen bisnis yang bersifat profan, tetapi juga sebagai  instrumen yang melintas batas  dunia  profan.  Dengan  demikian,  yang selama ini akuntansi dikenal sebagai  alat pertanggungjawaban kepada  pemilik perusahaan, maka akuntansi syariah adalah lebih dari itu, yaitu pertanggungjawaban kepada  stakeholders dan Tuhan.  Dengan sifat ini-dalam melakukan praktik  bisnis dan akuntansi-maka seseorang yang terlibat akan  selalu mengqunakan, atau tunduk dan  pasrah  terhadap kehendak Tuhan (etika syariah).  Nilai semacam inilah yang  dimaksud  dengan   teologikal.  Artinya  praktik akuntansi_ syariah  akan  mengantarkan pelakunya  secara  ri;I  teraktualisasi  dalam bentuk kegiatan  menciptakan dan menyebarkan kesejahteraan bagi seluruh alam.

Mengapa   akuntansi  syariah muncul  ke  permukaan,  padahal  akuntansi  Barat  telah mengakar dalam inti bisnis masyarakat?  Ternyata,  para perintis akuntansi, khususnya bidang ekonomi politik akuntansi, memiliki beberapa keraguan tentang pandangan akuntansi modern yang akan menunjukkan data  akuntansi  secara netral di antara pemakainya. Mereka menganggap hubungan antara  akuntansi  dan  masyarakat  adalah   penting.  Mereka mempertanyakan peranan akuntansi untuk menghubungkan masalah-masalah sosial dengan masalah organisasi dan  individual. Sebab  perhatian terhadap akuntansi  dalam masyarakat tidak sama di mana-lnana kendatipun  di antara masyarakat (negara-negara) yang menganut konsep itu seluruhnya.17

Teori akuntansi harus  mengkaji akuntansi  di masyarakat di mana  ia dipraktikkan.  Hal

ini berarti  bahwa  sikap ini mungkin merupakan suatu cara untuk melahirkan aturan-aturan akuntansi. Sebagaimana dijelaskan oleh Gambling, oleh karena tidak adanya aturan akuntansi, maka  akuntansi Barat tidak membahas mengenai  aturan  apa  pun yang berkaitan  dengan  masalah  organisasi  (perusahaan), yang berhubungan clengan masyarakatdanindividu. Aturan semacam  itu bisa disebut sebagai  suatu  bahasan clalam teori  akuntansi  sekarang.  Di pihak lain persyaratan masyarakat mengenai  akuntansi  secara  kuantitatif meningkat juga.

Berkaitan clengan persoalan perubahan teori akuntansi,  maka  akuntansi  akan  berubah ke  paracligma  baru  yang  sejauh  ini belum  jelas  lagi.  Dalam  konteks   demikian,  Takatera dalam pengantamya menyajikan dua strategi  pengkajian hakikat akuntansi  sebagai berikut: 18

 

1.      Jika  studi  akuntansi   deskriptif berkembang  dalam  suasana   terisolasi  dari  strategi intelektual untuk mengubah  akuntansi sekarang,  ha! ini akan  membenarkan akuntansi yang duludansekarang  bukan menginterpretasikannya. Sebaliknya jika studi akuntansi normatif dikembangkan  dalam suasana terisolir tanpa memperdulikan masyarakat danmasalah organisasi di mana akuntansi dipraktikkan,  maka ha! ini akan berakibat kegagalan percobaan sebab  tidak akan berakibat  kegagalan  percobaan sebab tidak akan cliterima oleh masyarakat kendatipun jika ini clapat menjelaskan  ’akuntansi  untuk apa yang tidak boleh’.  Kemudian  aclalah penting  menggabungkan stucli akuntansi  deskriptif clengan studi akuntansi  normatif untuk memberikan pemahaman baru  tentang apa  akuntansi

<lulu, apa akuntansi  sekarang,danmenciptakan apa akuntansi  di masa yang akan datang.

2.     Jika  akuntansi  yang dimaksud  adalah  akuntansi   “what should  be” sebagai  kelanjutan dari akuntansi  what it is”, dengan  jalan yang  tidak  akan  pernah berhenti,  kita tidak akan  dapat   membentuk  akuntansi   “what  it  is”  walaupun   kita  dapat   menawarkan interpretasi baru, terhadap  apa  akuntansi  “what it was”danapa  akuntansi  sekarang (what it is) …  Strategi untuk membuat  isu sekarang jelas harus berhaclapan dengan citra akuntansi yang  akan  datang, yaitu menciptakan akuntansi “what should  be.” Sebagai ganti dari “what it is”: di bidang yang  kita hentikan keberadaannya.

 

 

Akuntansi syariah tidak menolak pendapat bahwa  akuntansi menyesuaikan kelompok­ kelompok yang  berkepentingan. Tetapi  Akuntansi  Syariah  menyangkut masalah  ekonomi, masalah  politik,danjuga masalah  akuntansi. Dengan  kata  lain, fungsinya  sebagai  bagian syariah. Dalam konteks  itu harus diterima bahwa  akuntansi  Islam (syariah) memainkan peranan untuk  menyesuaikan  kelompok-kelompok yang berkepentingan dalam masyarakat. Secara singkat  dapat dijelaskan,  bahwa  teori  akuntansi   syariah  dipelajari  sebagai  suatu  sistem akuntansidanpada  saat  yang sama ditafsirkan  sebagai  sesuatu  yang berhubungan dengan manajemen,  ekonomi,  hukum,  politik, dan agama.

 

 

PRAKTIK AKUNTANSI  SYARIAH

 

Kemunculandanperkembangan lembaga  keuangan Islam di Indonesia yang sangat fenomenal,  telah  memicu  lahirnya diskusi-diskusi serius lebih lanjut,  mulai dari produk atau jasa yang ditawarkan, pola manajemen lembaga,  sampai  kepada pola akuntansinya.  Aspek

akuntansi badan  usaha  memang selalu rnenarik untuk clijadikan kajian dan bahan  diskusi, apalagi bila badan tersebut mempunyai kekhasan tersendiri seperti  halnya lembaga keuaajan Islam. Menariknya akuntansi untuk dibahas, tentu karena adanya  beberapa alasan. Pertama, akuntansi selama ini dikenal sebagai alat komunikasi, atau sering diistilahkan sebagai bahasa bisnis. Kedua, akuntansi sering diperclebatkan apakah  ia netral atau tidak. Ketiga, akuntansi sangat  dipengaruhi oleh lingkungan  (politik,  ekonomi,  budaya) di  mana  ia clikembangkan; dan keempat, akuntansi mempunyai peran sangat  penting,  karena apa yang clihasilkannya, bisa menjacli sumber  atau dasar  legitimasi sebuah  keputusan pentingdanmenentukan.

Dengan  pertimbangan faktor-faktor di atas,  maka manakala lembaga keuangan Islam ramai dibicarakan, timbul pertanyaan seperti,  bagaimana dengan  akuntansi yang diterapkan oleh lembaga keuangan Islam? Apakah  lembaga keuangan  Islam boleh memakai  akuntansi yang  sekarang dikenal,  atau  harus menerapkan  praktik  akuntansi yang  berbecla? .Iika demikian,  bagaimana bentuk  akuntansi yang  lebih  lslami,  atau  dapat  diterima  syariah? Sejauh mana  akuntansi syariah berbeda  dengan  praktik akuntansi yang sekarang acla?

Pada  tatanan teknis operasional, akuntansi syariah aclalah instrumen yang digunakan untuk menyediakan  informasi akuntansi yang berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam  penqambilan keputusan ekonomi.  Persoalan yang muncul adalah bagaimana keputusan ekonomi yang sekiranya tidak menyimpang  dari syariah Islam atau dapat diterima oleh Islam.  Untuk  itu,  da)am  pembahasan teori  maupun   praktik  ekonomi  (termasuk di dalamnya  bidang  manajemen  atau  akuntansi,  misalnya)  hendaknya dibahas  dari sudut Is• lam,  bukan  sekadar  dari sudut agama.  Dalam  kaitan  ini,  Qardhawi  menyarankan, agar: “kita  tidak membahas ekonomi  dari sudut agama,  akan  tetapi  (membahas)  ekonomi  dari sudut lslam.”19   Mengapa  dernikian?  Sebab Islam adalah Jebih integral dari sekadar  agama. Islam  adalah  agama  dan  clunia,  ibadah  dan  muamalah,  aqidah dan syariah,  kebudayaan dan peradaban, agama  dan negara.

Lebih  lanjut  Qardhawi  menjelaskan,  bahwa  tidaklah  mengagetkan, apabila  ahli  fiqh

dan ahli ushul liql: menjadikan agama  sebagai salah satu dari lima hal yang bersifat dlurari dalam  syariah Islam. Kelima ha! tersebut  adalah. agama,  jiwa, akal, keturunan, danharta. Sebagian  ulama  menambahkan clengan  ”kehormatan”.  Jadi.  agama  hanyalah  salah  satu dari hal-hal pokok  yiing dipeliharadanclijaga oleh syariah Islam.

Selain dari itu, kita menclapatkan ha! pokok lain dalam ibadah Islam. Menurut Qardhawi ditegaskan:

 

…  bagian ibadah  Islam yang pokok  itu, adalah satu ibadah  khusus  yang istimewa, yang pada

·    kenyataannya merupakan bagian dari sistem keuangan  dan ekonomi dalam pandangan  Islam. ltulah ibadah zakat,  … Dalam bagian dosa besar  yang diharamkan dengan  pengharaman yang sangat kuat, kita menemukan dosa besar agama, yang tergolong “tulang belikat” sistem ekonomi bagi sebagian besar umat manusia, baik dahulu maupun  sekarang. ltulah riba di mana Rasulullah SAW telah melaknati para pemakannya, pemberinya, penulisnya, dan kedua saksinya.10  Dengan  demikian  jelas, bahwa  upaya  kita  menemukan format  teori  maupun  praktik ekonomi  (manajemendanakuntansi  Islam) harus  dilandaskan  pada  Islam sebagai sesuatu yang  integral.  Kemuclian diturunkan  sampai  pada  bagian  yang  lebih bersifat  operasional seperti  bagaimana pengaturan  zakat, bagaimana persoalan riba,dansebagainya. Hal-ha! demikian inilah yang merupakan ciri-ciri khas dari pengembangan bidang/aspek kehidupan yang Islami, sesuai dengan  syariah Islam.

Sebagai   turunan  dari  uraian  di atas,  barangkali  uraian  tentang   keputusan   ekonomi yang  dihasilkan oleh akuntansi  syariah adalah  bercirikan  sebagai  berikut:

 

1 .       menggunakan nilai etika sebagai  dasar  bangunan akuntansi;

2.     memberikan arah  pada,  atau  menstimulasi timbulnya perilaku etis;

3.     bersikap adil terhadap semua  pihak:

4.     menyeimbangkan sifat egoistik dengan  altruistik;  clan

5.     mempunyai  kepedulian terhadap lingkungan.21

 

 

Berdasarkan landasan dan ciri-ciri tersebut  di atas, maka diharapkan akuntansi  syariah akan  mempunyai  bentuk  yang  lebih  sempurna  bila dibandingkan  dengan   akuntansi konvensional.   Sebab   melalui  ciri-ciri tersebut   tercermin  sesuatu   yang  syarat   akan pertanggungjawaban,  nilai-nilai sosialdanjelas. Mengapa  harus  demikian? Sebab  disadan bahwa  pada  tatanan yang  lebih teknis,  yaitu  dalam  bentuk  laporan  keuangan,  akuntansi syariah  masih  mencari  bentuk.  Di dalam  tesis ini, bentuk  konkret  akuntansi  syariah  secara utuh belum clapat clitampilkan, sebab untuk sampai  pada tataran praktik danbentuk laporan keuangan yang utuh  memerlukan  dukungan  teori  yang lengkap  dan kuat.

Di samping itu, usaha membentuk model akuntansi syariah bukan suatu langkah “tambal sulam” yang dilakukan untuk memperbaiki  akuntansi konvensional. Akan tetapi, upaya  ini harus dilakukan dengan  pijakan filosofis yang sangat mendasar. Di balik itu, pemikiran filosofis tidak  akan  banyak  memberikan perubahan,  bila tidak dilanjutkan pada  pemikiran  teoretis dan teknis.

Memang  harus diakui, tidak banyak pemikir yang memiliki kepedulian mengembangkan

akuntansi  berdasarkan nilei-nilai Islam.  Beberapa pemikir  yang  dapat  dicontohkan  di sini misalnya: GamblingdanKarim (1991); Baydoun dan Willet (1994). Pemikiran mereka tentang akuntansi yang  bernuansakan Islam telah  memberikan  warna  baru  dalam  perkembangan akuntansi berlandaskan Islam. Mereka  mencoba melakukan  koreksi terhadap pendekatan­ pendekatan yang digunakan  bagi pengembangan akuntansi  konvensional.

Menurut penilaian GamblingdanKarim, bahwa  pendekatan-pendekatan yang digunakan

untuk  membangun akuntansi (kebanyakan) adalah  dengan  pendekatan seperti:  empirical­ inductive approachdanempirical-deductive approach. Di samping itu, GamblingdanKarim mengkritik  terhadap metode dan pengukuran akuntansi,  serta  klasifikasi aktiva.  Kritikandanpenilaian GamblingdanKarim tersebut akhirnya ditemukan sebuah  kesimpulan bahwa: Islam  tidak  menerima dualisme.  tetapi  mengakui  adanya  pertemuan dan  kesatuan dalam kemajemukan itu. Menurut pandangan Islam, memisahkan jasad dari ruh adalah tindakan melawan hakikat sesuatu, karena ha! ini melanggar prinsip Islam yang sangat fundarnenral, yaitu cauhid.

 

Pemyataan di atas  menunjukkan,  Islam menolak adanya  dikhotomi  antara  dua  ha! yang bersifat berlawanan, tetapi sebaliknya Islam menerima bahwa dua ha! {atau lebih) yang berlawanan (atau  berbeda)  itu  mestinya   saling melenqkapi.  Misalnya,  jasad  tidak  dapat meniadakan ruh dan ruh tidak dapat  meniadakan jasad. Akal tidak dapat  meniadakan kalbu

dan kalbu tidak dapat  meniad�an akal; keduanya adalah pasangan yang saling melengkapi.

Hal .demikian,  menurut Poernomosidi  Hadjisarosa  dikatakan  sebagai  ”dua  ha!  yang karakteristik”.30 Dua ha! yang karakteristik ini akan selalu melekat dalam bangunan akuntansi, yaitu akuntansi tidak akan pernah  melepaskan antara  sisi aktiva dan pasiva. Hal ini dikenal dengan double  entry  bookkeeping.

Dua ha! yang karakteristik,  akan  selalu ada dalam tradisi Islam.  Ayat-ayat dalam kitab    ,

suci, tidak  dapat  dipisahkan  antara ayat qauliyyah  dan  ayat kauniyyah.  Agama dan  ilmu      ’

pengetahuan  {science)  juga  merupakan  unsur-unsur yang  saling   melengkapi  dalam pengembangan ilmu  pengetahuan itu sendiri dan  pemahaman terhadap agama.

Apabila kerangka epistemologi sebagaimana dikemukakan di atas  diterapkan  dalam r:angka membangun teori. akuntansi   syariah,  maka  produk  teori  akuntansi  syariah  yang di.hasilkan _   akan  memiliki wawasan  yang  lebih  luas  dibandingkan  dengan  teori akuntansi “konvensional”,  Sebab,  dengan  begitu teori  akuntansi  syariah  tidak  hanya  berdiri  di  alas azas  etis-epistemoloqi yang universal, yaitu keadilan  llahi, namun  juga memiliki sifat yang transendenta/dan teleoloqiksl. Hal ini berarti, bahwa teori tersebut tidak hanya memberikan perhatian pada kepentingan profan (bisnts) manusia,  tetapi juga untuk kepentingan ukhrawi, yang diaktualisasikan dalam kesadaran_diri untuk hidup harmoni  dengan jaringan-jaringan kuasa llahi.

AKUNTANSI  BERORIENTASI SOSIAL

 

Islam adalah  agama  yang rahmatan Iii alamiin.  Artinya ajaran  Islam akan dapat  diterapkan atau  dipakai siapa saja,dandi mana saja. Rahmatan Iii alamiin adalah sebuah konsep  yang mengandalkan pada konsep  keadilan. Keadilan merupakan isi kandungan  yang tidak dapat dihilangkan dari keyakinan  Islam. Sehingga  kondisi ideal masyarakat Islam tidak akan dapat tercapai apabila  keadilan tidak ditegakkan.  Islam  ingin menjinakkan semua  perilaku dzalim mm.

 

 

dari masyarakat.  Termasuk di dalamnya adalah  perilaku dzalim  masyarakat bisnis.  Perilaku dzalim adalah perilaku-perilaku dalam bentuk disknminasi, ketidakadilan, eksploitasi, tekanan, dan perilaku sewanang-wenang yang dengan  perilaku ini dapat  merugikan  orang  lain.

Pertanyaan mendasar yang muncul adalah kapan suatu keadilan dalam suatu masyarakat terwujud? Keadilan  masyarakat merupakan keadilan ideal, di mana  masyarakatnya dapat hidup dengan layak  dalam  berbagai  bidang.   Tidaklah  mungkin   untuk   mendapatkan masyarakat Islam yang ideal sementara keadilan tidak diteqakkan.

Berdasarkan paparan di atas, satu hal yang tidak dapat  dihindari dari keyakinan  Islam bahwa  manusia  merupakan khalifah (wakil) Tehan,  dan  manusia  harus mengatur  hidup sesuai dengan  status mereka.  Pengarahan-pengarahan yang terkandung dalam ajaran-ajaran Islam adalah  dalam rangka membantu merealisasikan tujuan ini. Para ulama sangat percaya bahwa kesejahteraan umat dan peringanan mereka dari beban hidup yang berat merupakan tujuan dasar  syariah.  Pandangan ini, jika dilihat dari sudut pandang ekonomi merupakan penekanan padapenciptaan kelayakan ekono”?i melalui pemenuhan kebutuhan dasar dan penciptaan keadilan sosio-ekonomi.

Dari sinilah diperlukan suatu penanganan dan pendekatan serta studi yang berorientasi sosial, sehingga  seluruh fungsi perusahaan harus berlandaskan pada  nuansa  lslami. Sebagai contoh-rnisalnya pada bidang akuntansi. Hal penting  untuk dicatat, bahwa  perbedaan dalam struktur  sosial mempengaruhi pengembangan bidang  dalam  suatu  masyarakat tertentu. Demikian  pula pengaruhnya pada  bidang akuntansi.  Dengan  kata  lain, akuntansi adalah refleksi budaya. Demikian pula akuntansi Islam (syariah) pada dasamya  adalah refleksi budaya Islam.

Pernbicaraan mengenai  akuntansi Islam haruslah dipahami  sebagai  sebuah  alat yang

memiliki orientasi sosial. Mengapa  demikian?  Sebab  akuntansi Islam tidak  hanya  sebagai alat untuk  menterjemahkan fenomena ekonomi  dalam  bentuk ukuran moneter tetapi juga sebagai suatumetode untuk rnenjelaskan bagaimana fenomena ekonomi  itu berjalan dalam masyarakat Islam. Hal ini tidak sama dengan perbedaan antara  akuntansi deskriptif dengan akuntansi normatif. Akuntansi deskriptif ini bertujuan untuk  menawarkan akuntansi  yang cocok  dengan tujuan tertentu.  Jika tujuan berbeda,  maka  pasti  norma  juga berbeda.

Akuntansi Islam memiliki satu  tujuan yaitu akuntansi harus  mematuhi  prinsip Islam. Akuntansi Islam muncul sebagai turunan  dari prinsip-prinsip Islam. Dalam kaitan ini, semua

akuntansi  Islam �dapat  disebut  normati!.   Tetapi,  benar juga  jika  disebut  bahwa  di mata

masyarakat (Islam), perbedaan yang menarik antara positif-normatif atau deskriptif/preskriptif atau dikotomi  mendasar antara  fakta-nilai yang merupakan sifat yang dianut,  merupakan suatu jenis  pengetahuan  yang saat ini terjebak dalain suasana kendala  metodologi  dalam studi akuntansi  khususnya  tentang Akuntansi  Islam.  Hukum Islam  atau  syariah,  berlaku bagi setiap  muslim dan membentuk aturan  dasar bagi semua lembaga keuangan syariah (Islam), termasuk perbankan  syariah.  Syariah diterapkan untuk mewujudkan masyarakat ideal, sehingga lembaga keuangannya dan akuntansi memiliki kesamaan  pembenarannya sendiri. Tentu saja ada perbedaan  pendapat  terhadap suatu fenomena ekonomi. Argumen

 

mengenai sifat-sifat zakat misalnya. Tidak pecluli apakah  perusahaan menghemat  uang atau pemerintah mengumpulkan zakat, tetapi masalahnya aclalah menentukan apakah yang terbaik untuk  memahami Islam.

Secara jelas akuntansi  Islam yang diterapkan pada  lembaga  keuangan  syariah  aclalah upaya  penerapan akuntansi yang menyangkut  masalah  ekonomi, masalah  politik,danjuga masalah   akuntansi   itu  sencliri.  Dengan  kata  lain, fungsinya  sebagai  bagian  dari  syariah. Dalam konteks itu harus cliterima, bahwa akuntansi syariah memainkan  peranan untuk menyesuaikan kelompok-kelompok yang berkepentingan bisnis clalam masyarakat. Di sinilah letak posisi sosial dari akuntansi  Islam.

Akuntansi  berorientasi sosial aclalah sebuah akuntansl-pano menyajikan atau mengungkap clampak  sosial  perusahaan  terhaclap  masyarakat. 49    Dengan  demikian, pengungkapan perusahaan tentang  dampak  sosialnya terhaclap  masyarakat sebagai suatu  kewajiban. Jika ihwalnya  aclalah_ berkaitan   clengan  masalah  kewajiban   sosial,  maka  cara  baku  untuk pengembangan  akuntansi  yang  dapat   cliterima oleh  seluruh  umat-sesuai clengan sifat rahmatan 1il ‘alamiin ajaran  lslam-aclalah clengan  cara  memperluas konsep  dasar  sistem zakat.

Mengapa  harus memperluas  konsep dasar sistem zakat? Sebab sebagaimana diuraikan pada  bagian sebelumnya, bahwa  zakat sebagai suatu institusi yang memiliki perspektif sosial harus  dikenakan  kepacla seluruh aktiva perusahaan maupun  perorangan. Walaupun  meski harus  dilihat lebih clahulu apakah zakat  clikenakan kepada  aktiva  lancar  atau  tidak  lancar. Mengingat  zakat  merupakan pengeluaran yang  harus  dibayarkan  setelah  mencapai  nisab. Niseb terjadi  apabila  harta  yang  dimiliki seseorang atau  perusahaan itu bertambah   dan bertambah, sehingga  yang bersangkutan akan dikenai pengeluaran zakat apakah  sebanyak

2,5%,  5%, atau  10%, tergantung pada  jenis aktiva  yang  menghasilkan  yang  dimiliki oleh seseorang atau perusahaan. Dengan  kata lain, zakat clalam akuntansi dikenakan pada aktiva lancar.

Oleh karena orientasi sosial akuntansi syariah adalah clibebankan kepada  perluasan  konsep

zakat, maka kias (metafora) organisasi akuntansi  harus dirujukkan pada orientasi zakat, bukan lagi pada  orientasi  laba atau  stakeholder oriented=  Inilah yang lebih lanjut dikatakan  oleh Triyuwono sebagai organisasi bermetaforakan “amanah”. Orientasi zakat menganclung pengertian luasdankomprehensif.  Sebab  zakat  bukan  sekadar clinyatakan clalam bentuk angka-angka persentase, akan tetapi melalui zakat dapat  diketahui kinerja perusahaan. Yaitu semakin  tinggi  zakat  yang  dikeluarkan  oleh  perusahaan berarti  semakin  besar  laba yang didapat  perusahaan.

Lebih  tegas lagi  dapat  dikatakan,  bahwa  penggunaan kiasan  (metafora)  zakat  untuk

menciptakan realitas organisasi  mempunyai  beberapa makna. Menurut Triyuwono  ada lima makna  realitas  organisasi  tersebut, yaitu: 51

1.     Ada transformasi dari pencapaian laba bersih (yang maksimal) ke pencapaian zakat.

2.     Karena  yang  menjadi tujuan adalah zakat,  maka  segala bentuk operasi  perusahaan (akuntansi) harus  tunduk  pada  aturan main  (rules of game) yang  ditetapkan dalam syariah.

3.     Zakat mengandung perpaduan karakter  kemanusiaan yang seimbang antar_a karakter

egoistik dan  altruistik/sosial.

4.     Zakat mengandung nilai  emansipatoris.

5.     Zakat  adalah  jembatan  penghubung antara  aktivitas  manusia  yang  bersifat  duniawi dan  ukhrowi.

 

Apabila  dianalisis lebih  lanjut,  pemikiran  di  atas jelas  menunjukkan orientasi  sosial yang jelas dari zakat.  Pada  saat zakat ditempatkan sebagai metafora organisasi atau zakat sebagai  inti  organisasi  akuntansi.  Sebagaimana  makna  pertarna.  ada  transformasi   dari

pencapaian laba bersih (yang maksimal) ke p�ncapaian zakat. Hal ini berarti bahwa  pencapaian

laba bukan  merupakan tujuan akhir perusahaan, tetapi hanya  sekadar tujuan antara.

Oleh  karena zakat  menjadi  tujuan  akhir,  maka  segala  bentuk  operasi  perusahaan (akuntansi) harus tunduk  pada  aturan main (rules of game) yang ditetapkan dalam syariah. Sebagai contoh.  kapan  seseorang atau  perusahaan mengeluarkan zakat sebagai orientasi sosial perusahaan; berapa  persen  zakat yang dikeluarkan oleh seseorang atau perusahaan; dan siapa saja yang harus  diberi zakat. Kesemuanya ini dijalankan  mengikuti aturan-aturan main  yang  ada  dalam syariah  Islam.  Penyimpangan terhadap aturan  atau  hukum  syariah menjadikan  tidak sahnya  tujuan zakat.

Zakat mengandung perpaduan  karakter kemanusiaan yang seimbang antara karakter

egoistik dan altruistik/sosial. Artinya, bahwa seseorang mengeluarkan zakat berarti  ia telah mementingkan  lebih  dahulu  kepentingan  orang lain  daripada  kepentingan  pribadinya. Karakter egoistik mencerminkan bahwa  seseorang atau perusahaan tetap  diperkenankan untuk  mencari laba (namun tetap  dalam bingkai syariah), dan kemudian  sebagian  dari laba (dan kekayaan  bersih) yang diperoleh  dialokasikan sebagai zakat. Sedangkan altruistik atau sosial mempunyai arti bahwa  perusahaan juga mempunyai  kepedulian  yang  sangat  tinggi terhadap kesejahteraan manusiadanalam lingkungan yang semuanya  ini tercermin  dalam zakat itu sendiri.

Zakat !Pengandung nilai emansipatoris.  Hal  ini berarti. bahwa  zakat sebagai lambang

pembebas manusia dari ketertindasan ekonomi,  sosial, dan  intelektual, serta  pembebasan alam dari penindasan dan eksploitasi manusia. Akhimya, zakat adalah jembatan penghubung antara aktivitas manusia  yang bersifat  duniawi dan  ukhrowi.  Hal ini berarti,  bahwa  zakat sebagai jembatan, memberikan kesadaran ontologis bagi diri manusia, karena  segala bentuk kegiatan  profan selalu berkait  erat  dengan kehidupan manusia dihadapan Allah kelak di akhirat.

Dengan   demikian  jelas,  bahwa  kiasan  (metafora)  akuntansi   syariah  harus  dibangun

dengan memperhatikan makna  zakat sebagai suatu orientasi sosial.  Sebab orientasi ini akan

berkaitan erat  dengan  tujuan  akhir kinerja akuntansi.  Tujuan akhir kinerja akuntansi  adalah pembuatan laporan  sebagai bahan pertanggungjawaban tentang kondisi aktiva, pasiva,danmodal yang dimiliki oleh seseorang  maupun  perusahaan.

lmplikasi dari pemikiran di atas menunjukkan, bahwa semua perangkat organisasi yang akan  disusun  harus  benar-benar merefleksikan  zakat  sebagai  suatu  kias (metafora). Hal ini menunjukkan adanya  bentuk transformasi.  Transformasi ini tidak saja akan mempengaruhi perilaku  manajemen,  stockholders,  karyawan, danmasyarakat sekelilingnya,  tetapi  juga perangkat informasi. Perangkat informasi yang ada dalam  perusahaan inilah yang biasanya berbentuk akuntansi  yang  digunakan  oleh organisasi  yang bersanqkutan.

Kecuali itu harus diingat, bahwa bentuk organisasi  digambarkan di atas bukanlah sebagai satu-satunya faktor yang berpengaruh terhadap kias (metafora)danorientasi  akuntansi syariah. Akan tetapi, faktor-faktor lain seperti  sistem ekonomi, sosial, politik, peraturan per,undang­ undangan, kultur, persepsi,  dan nilai yang berlaku dalam masyarakat, mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap bentuk akuntansi.  Hal inilah yang menunjukkan  bahwa akuntansi merupakan keutuhan  (entitas) informasi yang tidak bebas  nilai, tetapi merupakan keutuhan (entitas) informasi yang syarat  nilai .

 

 

AKUNTANSI  PERTANGGUNGJAWABAN

 

Satu  ha! penting  yang  dapat  dikaji dari ayat 282  surat  Al-Baqarah  adalah  adanya  perintah dari Allah kepada  kita untuk menjaga  keadilan  dan  kebenaran di dalam  melakukan  setiap transaksi.  Lebih  dalam  perintah ini menekankan pada  kepentingan pertanggungjawaban (accountabilityi agar pihak yang terlibat dalam transaksi itu tidak dirugikan, tidak menimbulkan konflik, danadil.  Untuk  mewujudkan  sasaran  ini maka  dalam  suatu  transaksi  diperlukan saksi.

Di samping  itu, manusia  diciptakan  Allah di muka bumi ini memiliki fungsi dan  peran ganda, yaitu: fungsi wakil (khalifah)danhamba  (abdullah).  Di dalam menjalankan  fungsi dan peran  ini tentu  saja  pemberi  peran  akan  meminta  pertanggungjawaban atas  pelaksanaan fungsi tersebut.  Oleh  karena  itu,  di dalam  akuntansi kehidupan manusia,  maka  manusia sebagai  khalifah dan abdullah tersebut tidak dapat dilepaskan  dari proses akuntansi.  Dengan kata  lain, manusia  akan  selalu mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan dan amalnya dihadapan sang pemberi  amanah,  yaitu Allah SWT.

Gambaran di atas harus dijadikan pijakan dalam pengembangan format akuntansi syariah,

yang  berdimensikan pertanggungjawaban  (accountabilit!lJ.   Dimensi  pertanggungjawaban dalam  akuntansi syariah  adalah  memiliki cakupan yang luas. Jadi  pertanggungjawaban ini bukan hanya  pertanggungjawaban atas uang (finansial) yang digunakan  dalam melaksanakan kegiatan, akan tetapi pertanggungjawaban ini harus mampu  meningkatkan tanggung  jawab secara   horizontal  dan  vertikal.  Pertanggungjawaban horizontal  tertuju  pada  masyarakat, pemerintah, dan kepatuhan pada peraturan. Sementara pertanggungjawaban vertikal adalah tertuju  pada  transendensi aktivitas (finansial, dan sebagainya) kepada Dzat yang memberikan

tanggung jawab. Secara rind, pertanggungjawaban akuntansi dimaksudkan untuk mem informasi dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Sehubungan dengan kepenti kepentingan tersebut  Hadjisarosa  menqidentifikasi sebagai  berikut:

 

1.     kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan

2.     pelanggan

3.     pemilik  modal

4.     karyawan

5.     rekanan

6.     pemerintah

7.     masyarakat, dan

8.      pelestarian lingkungan.52

 

 

Kendatipun  telah  terdapat delapan  kepentingan  yang  harus   diperhatikan melakukan pertanggungjawaban atas kondisi dan informasi akuntansi,  namun  delapao tersebut hanyalah  baru  sebatas  pada  dimensi horizontal.  Timbul pertanyaan,  di m letak  dimensi  vertikalnya?  Jawabannya adalah  ada  pada  dimensi  zakat.  Zakat  s manifestasi  pertanggungjawaban  hamba  yang melakukan perbuatan/aktivitas bisnis dapat diaudit kemudian dipertanggungjawabkan kesucian modal kepada Dzat pemberi Dimensi  inilah yang merupakan dimensi  paling tinggi.

Perihal  yang  berkaitan  dengan  masalah  pertanggungjawaban  secara  vertikal syariah diatur oleh hukurn-hukum  Allah yang terdapat dalam Al-Qur ‘an dan sunnah Persoalan  berikutnya  adalah  bagaimana  upaya  untuk  meningkatkan  akuntabilitas berkaitan dengan dimensi horizontal. Kiranya pandangan Lee Parker dapat dijadikan atau  petunjuk bagi  peningkatan akuntabilitas,  sebagai berikut:

 

1.     Mengintegrasikan antara  data keuangan  dan nonkeuangan.

2.     Penilaian  terhadap  hasil  yang  bersifat  keuangan   dan  nonkeuangan  d membandingkannya  dengan  tujuan  yang  ingin  dicapai.

3.     Memperluas ruang  lingkup tanggung  jawab mencakup masyarakat/lingkungan.

4.      Laporan menyangkut tingkat  kepatuhan perusahaan pada peraturan pemerintah standar akuntansi. 53

 

 

Dalam  kerangka  inilah,  maka  para  akuntan  dihadapkan  pada  kemajuan  masa yang  penuh  dengan  ketidakpastian,  ketidakberesan.   Ketika kondisi  ini  terjadi, maka akuntan  harus  menghormati nilai,  norma,  dan  etika  teologis.  Sehingga  mereka menampilkan dirinya sebagai akuntan yang dapat  dipercaya, jujur,  bertanggung jawab, sebagainya.  Dengan  demikian,  akuntansi  masa  depan  mestinya  bukan  hanya berorientasi  pada  pengambilan keputusan (decision  making  oriented; akan  tetapi  harus  berorientasi  pada pertanggungjawaban  (accountability orientedi.

Sesuai dengan  kata kunci pembicaraan ini, yaitu pertanggungjawaban, maka akuntansi pertanggungjawaban merupakan ciri khas akuntansi  syariah. Sebab akuntansi  pertanggung­ jawaban adalah  akuntansi  yang memberikan  infonnasi  yang adil dan benar. Dengan demikian akuntansi syariah (lslam) yang memiliki unsur pengertian ekonomi, politik, dan agama memiliki kemungkinan besar  untuk menunjukkan  kunci ke arah  akuntansi  Pasca  Newton.”

Berdasarkan pembahasan ini, maka secara  nyata menunjukkan bahwa akuntansi  syariah (Islam) dapat  memberikan sumbangan  untuk menciptakan paradigma baru dalam akuntansi. Namun  perlu ketegasan, bahwa tidak perlu lagi untuk membedakan antara akuntansi normatifdandeskriptif dalam  akuntansi  Islam. Sebab  di dalam  Islam keduanya  akan berjalan. Tidak mungkin ditemukan deskripsi jika tidak ada norma. Norma adalah acuan dalam pengembangan deskripsi. Jadi keduanya ibarat koin mata  uang, yang memiliki sisi berbeda

namun  nilainya sama.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmed Belkauoi. 1993. The Coming Crisis in Accounting. (New York: Greenwooc Press, lnc.);1993, hal. 60-65.

Dhaoua, Mahvnoud. 1993. Reflection into the spirit of the lslanic Copus  of Knowledge and lhe Rise of the New Science.The American of  Journal of Islami School Science:  1153-164.

Institute of Islamic Banking And Insurance. Accounting Issues In Islamic Banking. London, 1994, Hal. 6.

Institute  of Islamic Banking  And Insurance. Accounting Issues In Islamic Banking. London, 1994, Hal. 7.

Institute of Islamic Banking And Insurance. Accounting  Issues In Islamic Banking. London, 1994, Hal. 8.

Kuntowidjojo. 1991.  Paradigma Islam: lnterpretasi untuk Aksi. (Bandung:  Mizan).  hal. 289.

lwan Triyuwono dan M.J.R. Gaffikin, 1996. Shari’ate Accounting: An Ethical Construction of Accounting Knowledge. The Fourth Critical Perspectives on Accounting Symposium.  26-28April. New York City, hal. 6.

M. Baqir As-Sadr. 1996.  Islam Economic. Translated: Toshia Kuroda (lsuramu Keizaron). (Nigata: The Institute ol Middle Easler Studies. International Univeisity of Japan), 1986,hal.136..

Pornomodi,  Hadjisarosa. 1997.  Pendekalan Sistem: Butir-butir Mengenali Suatu Hal Secara Benar dan Utuh. Yogyakata: STlE Mitra Indonesia.  hal. 5

Sadao Takalera. 1988.  Posebility of Accounting (Kanosei no Kaikeigaku). (Tokyo: Sanrei-shobo).  hal. 10

Shauqi Ismail Shahata. 1987.  FinancialAccounting from the Islamic Point of View. (Kairo: al-Zahra al A’lam al-Arabi).  hal. 9.

Trevor E. Gambling. 1997.  Toward a General Theory of  Accounting.  lnternational Journal of Accounting Education and Research. Vol. 7, No. 1  (Musim gugur). hal. 141.

Triyuwono, Iwan., 1996.  Organisasi, Akuntansi, dan Spiritualisme Islam. Makalah Stadium General Mahasiswa Syariah Banking Institute. Yogyakarta. 26 September 1996.

Vernon Kam, 2000. Accounting  Theory.  John Wiley & Sons, New York.. Hal. 304.

 

 

 

Categories: Uncategorized Tags:
Comments are closed.